Sabtu, 26 Juli 2008

Takut kok Kepada KPK?

Mengapa Harus Takut Kepada KPK?

SEJAK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dikomandani oleh mantan seorang jaksa yang bernama Antasari Azhar, SH dilantik dan menjalankan tugasnya, banyak pihak akhirnya menjadi ’gerah’. Orang-orang yang selama ini menyangsikan kepemimpinan Antasari dalam memberantas korupsi di republik ini, kini mulai sport jantung. Mulai dari mereka yang berada dan tengah duduk di institusi penegak hukum, hingga orang-orang yang ada di sekitar institusi tersebut. Semuanya mulai merasa ’gerah’.
Apalagi bagi mereka yang selama ini menganggap hawa nafsunya sebagai ’panglima’ kehidupan. Mereka nyaris tak bisa tidur dengan tenang. Sebab, setiap satuan waktu detik berganti ke menit dan jam, mereka yang ’bermasalah’ dengan nafsu mutmainnah --- karena tak mau menjadi pengikutnya itu --- selalu dihantui oleh perasaan cemas, takut dan gelisah.
Cemas kalau-kalau dirinya bakal menjadi tersangka. Takut, jika aibnya bakal terbuka. Gelisah, karena ternyata mereka tak bisa menghilangkan jejak negatif yang pernah dijalaninya. Ujung-ujungnya, makan pun jadi tak kenyang dan tidur pun terasa tak nyenyak.
Luuaaaaar biasa efek yang ditimbulkan oleh kehadiran KPK di republik ini. Tak ada satu makhluk pun yang tengah ’bermasalah’ di republik ini, yang tidak merasa cemas ketika melihat bagaimana kiprah orang-orang KPK. Bahkan, konon, mereka yang jelas-jelas berada di dalam tubuh KPK sendiri pun, terkadang juga merasakan hal yang sama. Cemas, takut dan gelisah bakal tergelincir.
Sebegitu hebatnyakah kedudukan KPK sehingga membuat orang-orang yang ada di negeri ini menjadi amat sangat ketakutan? Mengapa kita lebih takut kepada KPK daripada takut kepada Allah, Tuhan Yang Sebenarnya? Mengapa ketakutan kita kepada Zat Yang Maha Adil itu, tiba-tiba bergeser menjadi takut kepada KPK? Pertanyaan semacam inilah yang seharusnya lebih banyak kita renungkan bersama.
Bagaimana mungkin kita jadi amat sangat ketakutan kepada KPK, sedang terhadap Tuhan Yang Sebenarnya kita malah ’berani’ berkecak-pinggang tatkala melakukan kesalahan? Apa tidak kebalik? Apakah seperti itu sikap orang yang mengaku telah beriman kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, hari akhir dan Qadla-Qadar?
Agaknya, sekaranglah waktunya yang tepat bagi kita untuk menata ulang kembali keyakinan kita dalam bertauhid kepada Tuhan Yang Sebenarnya. Mumpung masih ada waktu, mari kita gunakan untuk berbenah diri. Mari kita luruskan kembali alamat rasa takut kita agar jangan sampai salah tempatnya. Anda setuju? (Firman)

Tidak ada komentar: